Cari Blog Ini

Jumat, 15 Oktober 2021

NEGARAKU JANGAN DIAM !!! Surat Terbuka untuk Presiden RI

 

NEGARAKU JANGAN DIAM !!!

Surat Terbuka untuk Presiden RI,

Ir. Joko Widodo

Bekasi, 12 Oktober 2021

 

 

Salam Sejahtera,

Semoga Bapak beserta keluarga dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah SWT.

Pertama-tama izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Singgih Yehezkiel, salah seorang rakyat Bapak yang sebagian besar hidupnya saya dedikasikan untuk dunia olahraga tanah air khususnya Tenis Meja.

Surat terbuka ini saya buat dan saya tujukan kepada Bapak, sosok yang sangat saya hormati sebagai pemimpin bangsa. Surat terbuka ini bagian dari concern dan kepedulian saya kepada bangsa dan negara, harapannya bisa sampai serta didengar oleh istana dan pemerintah.

 

Sebagai salah seorang yang juga mencintai negeri ini, pada kesempatan yang baik ini, saya datang kepada Bapak dengan kesungguhan untuk menyampaikan beberapa hal "curahan hati" termasuk didalamnya apresiasi, keprihatinan dan pendapat saya tentang situasi kondisi aktual saat ini. Adapun yang ingin saya sampaikan adalah:

 

Perlu kita ketahui bersama, konflik kepengurusan Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) tak kunjung beres. Hal itu berimbas dengan tidak dikirimkannya atlet tenis meja ke SEA Games 2019 di Manila.

 

Dalam waktu empat tahun terakhir PTMSI terpecah jadi tiga. PTMSI yang diketuai Oegroseno, Lukman Eddy, dan Peter Layardilay mengklaim sebagai kepengurusan PTMSI yang sah periode 2018-2022.

Peter sendiri menggantikan Tahir yang telah memilih mundur dari jabatannya.

 

Dualisme di PTMSI sendiri sudah muncul saat Lukman Edy terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) tahun 2016 lalu. Lukman Edy menggantikan mantan ketua DPR RI, Marzuki Alie.

 

Saat itu sudah muncul PTMSI yang dipimpin oleh Oegroseno. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kala itu mengakui PTMSI pimpinan Lukman, namun induk organisasi tenis meja yang dipimpin Oegroseno baru saja memenangkan kasasi di tingkatan Mahkamah Agung.

 

Perpecahan di tubuh PTMSI itu pun terus berlanjut hingga kini. Imbas terbaru adalah ditiadakannya Cabor Tenis Meja di PON Papua 2021.

 

Yang Mulia Bapak Presiden

Lihatlah berapa banyak masyarakat Tenis Meja, dari pemain nasional hingga pelatih klub kecil di pelosok negeri yang kehilangan hak tambahan penghasilan, kehilangan kesempatan menunjukkan prestasi dan kehilangan hak-hak yang lain atas apa yang terjadi pada kepengurusan PTMSI saat ini. Para pemain bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya.

 

Yang Mulia Bapak Presiden

Lakukanlah amanat di pundakmu sebagai Presiden di negeri ini. Jalankanlah pasal Undang-undang Dasar negara ini, jangan biarkan rakyatmu terbebani derita ini hanya karena ulah egois oknum di kepengurusan PTMSI Pusat.

 

Yang Mulia Bapak Presiden

Raihlah tangan-tangan rakyatmu yang memohon pertolongan, ulurkan tali di tengah derasnya gonjang ganjing kekisruhan kepengurusan PTMSI.

Jangan ada sejarah mencatat kami komunitas Tenis Meja Indonesia turun ke jalan menyambangi Istana Negara hanya untuk menyuarakan aspirasi seperti ini.

Jangan ada kedukaan di kemudian hari yang mencatat namamu sebagai pemimpin yang terlena, tak berdaya dan hanya diam atas dualisme kepengurusan PTMSI. Jangan ada cerita kesemerawutan PTMSI tidak bisa diselesaikan di kala kepemimpinanmu. Anak cucumu akan bahagia dan sejarah akan mencatat jika Bapak bisa menyelesaikan kemelut yang terjadi di PTMSI saat ini.

 

Saya sangat mengapresiasi kepemimpinan Bapak yang bisa menyelesaikan beberapa masalah bangsa, harapan saya adalah Bapak juga bisa turun tangan untuk membantu menyelesaikan dualisme kepengurusan di tubuh PTMSI saat ini.

 

Atas perhatiannya saya mengucapkan terimakasih.

 

 

Dari Pemerhati dan Pecinta Tenis Meja

Ttd,

Singgih Yehezkiel, S.E., M.Si.

0895358334912

 

Tembusan:

1. Kemenpora

2. KONI Pusat

3. KOI

4. Polda Metro Jaya

5. Komisi X DPR RI